Kabupaten Bekasi – Kondisi Pasar Tradisional Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kian memprihatinkan. Ratusan kios dilaporkan bangkrut dan tutup permanen akibat sepinya pembeli dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan pantauan MSIR.COM di lapangan pada Senin (12/10/2026), deretan lapak di dalam pasar banyak yang kosong dan ditinggal pemiliknya. Beberapa kios hanya menyisakan etalase berdebu, kunci gembok berkarat, dan spanduk usang, menandakan sudah lama tidak beroperasi.
Para pedagang yang masih bertahan mengaku mengalami penurunan omzet yang sangat drastis. Jika dahulu pasar ramai sejak subuh hingga siang hari, kini aktivitas jual beli sepi bahkan pada jam-jam yang biasanya menjadi puncak keramaian.
“Sekarang jam 9 pagi saja sudah sepi, padahal dulu jam segini masih rebutan pembeli. Banyak teman-teman pedagang akhirnya tutup karena rugi terus,” ujar salah seorang pedagang.
Perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu penyebab utama sepinya pasar. Warga kini lebih memilih berbelanja melalui e-commerce dan media sosial yang dianggap lebih praktis, minimarket yang tumbuh pesat di dekat permukiman hingga 8,4 persen per tahun, serta pedagang keliling yang masuk langsung ke kompleks perumahan.
Faktor fasilitas pasar juga turut mempengaruhi minat pembeli. Kondisi pasar yang dinilai kurang rapi, panas, kebersihan belum optimal, parkir semrawut, serta belum tersedianya sistem pembayaran digital membuat pembeli enggan datang, terutama generasi muda yang lebih menyukai tempat belanja ber-AC dan tanpa tawar-menawar.
Di tengah sepinya pasar, masih ada pedagang yang bertahan seperti Mang Ocim, tukang jahit legendaris di Pasar Cibarusah. Ia mengaku tetap membuka kios setiap hari meski jumlah pelanggan terus menurun drastis.
“Dulu sehari bisa jahit 10 celana, sekarang seminggu belum tentu dapat 5. Pasar sepi, tapi mau gimana lagi, ini mata pencaharian saya dari dulu,” ujarnya.
Para pedagang berharap pemerintah daerah Kabupaten Bekasi segera melakukan pembenahan pasar, perbaikan fasilitas, serta pendampingan agar pedagang mampu beradaptasi dengan sistem jualan online. Langkah tersebut dinilai penting agar pasar tradisional tidak benar-benar mati dan tetap menjadi penopang ekonomi rakyat kecil.






