Kota Bekasi – Sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran terhadap siswa di lingkungan sekolah, SMAN 5 Bekasi terapkan 1 hari tanpa gawai.
Kepala SMAN 5 Bekasi, Waluyo mengatakan, penerapan 1 hari tanpa gawai terhadap siswa sebagai upaya dalam meningkatkan interaksi sosial antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa lainnya.
“Satu hari tanpa gawainya kami terapkan setiap hari Jumat, dan kami memfokuskan agar siswa bisa lebih berinteraksi satu dan lainnya, sehingga bisa menciptakan sebuah interaksi sosial,” terang Waluyo, Rabu (15/4/2026).
Bukan tanpa alasan dirinya menerapkan hal tersebut di lingkungan sekolahnya. Perkembangan teknologi dan beragama informasi yang disampaikan melalui gawai, terkadang tidak disaring seutuhnya oleh siswa, sehingga menimbulkan hal yang bisa merugikan mereka.
Selain itu, dengan program tersebut, siswa bisa menyelesaikan tugas-tugasnya secara mandiri tanpa harus bantuan gawai yang mereka miliki.
“Kami ingin siswa lebih mandiri dalam menyelesaikan tugasnya dan membentengi siswa SMAN 5 Bekasi dari hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Dengan menumbuhkan interaksi sosial, aku Waluyo, maka hubungan yang terjalin antara siswa dan guru akan lebih erat lagi, sehingga proses penyampaian materinya juga akan maksimal.
“Siswa akan lebih banyak berkomunikasi dengan guru dan temannya saat materi pembelajaran disampaikan dan siswa juga bisa fokus belajar,” akunya.
Selain itu, program satu hari tanpa gawai, juga sebagai salah satu jawaban terhadap orang tua siswa dalam mengurangi tingginya penggunaan perangkat digital saat proses pembelajaran berlangsung.
“Banyak orang tua siswa yang merasa khawatir karena tingginya penggunaan perangkat digital saat ini, dan kami menjawabnya dengan meningkatkan kualitas pendidikan dengan program tersebut,” beber Waluyo.
Untuk proses satu hari tanpa gawai tersebut, nantinya gawai siswa akan dikumpulkan ke siswa yang diberikan tanggungjawab mengumpulkannya. Kemudian, gawai tersebut disimpan di dalam box dan diserahkan ke guru yang ditugaskan menyimpan gawai mereka.
“Gawainya dikumpulkan oleh siswa dan dimasukan ke dalam box yang kemudian diserahkan ke guru yang ditugaskan menyimpan gawainya,” tandas Waluyo(gur).






